Selasa, 21 April 2020

Covid-19

Covid-19
Virus corona telah menyebar ke lebih 180 negara dan menyebabkan banyak perubahan besar dalam gaya hidup dan cara kita bersosialisasi.
Jadi bagaimana kita sebaiknya melindungi diri dan kapan seseorang berada pada tingkat penularan tertinggi?
Bagaimana kita melindungi diri?
cuci tangan
Virus corona menyebar saat orang terinfeksi batuk dan menyebarkan percikan atau cipratan yang mengandung virus ke udara.
Ini bisa terhirup masuk atau menyebabkan infeksi jika anda menyentuh mata, hidung atau mulut dengan tangan yang menyentuh permukaan tempat virus jatuh.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia, WHO, hal yang paling penting mencegah penularan adalah menjaga kebersihan.
  • Sering cuci tangan dengan sabun dan air atau dengan gel pembersih. Langkah ini dapat membunuh virus di tangan.
  • Jangan menyentuh mata, hidung, mulut. Tangan yang menyentuh banyak permukaan dapat membawa virus. Dari situ, virus masuk ke tubuh bila Anda menyentuh wajah.

Bagaimana kita ikut mencegah penyebaran?

tutup mulut saat batuk
  • Tutup mulut bila batuk dan bersin.
  • Tidak menyentuh muka dengan tangan dan hindari kotak langsung dengan orang yang terinfeksi.
  • Buang tisu bekas bersin segera. Ini untuk menghindari air liur yang mengandung virus menyebar ke orang lain
  • Orang diminta menjaga jarak paling tidak dua meter, kira-kira dua kali bentangan tangan satu sama lain.
  • Bila kita di luar, WHO mengatakan penting untuk menghindari berjabat tangan dan "menyapa dengan aman" seperti melambaikan tangan atau mengangguk.
hindari sentuh muka
Masker wajah tidak menjadi perlindungan yang ampuh, menurut para ahli kesehatan.

Saat penularan tinggi ketika orang menunjukkan gejala

Virus corona menginfeksi paru-paru. Gejala dimulai dengan demam diikuti batuk kering yang kemudian mengganggu pernapasan.
Batuk berlangsung terus menerus, lebih dari satu jam, atau ada tiga atau lebih serangan batuk dalam 24 jam – terutama kalau batuknya lebih parah daripada biasanya.
Rata-rata memakan waktu lima hari untuk mulai memperlihatkan gejala, kata para ilmuwan. Namun pada beberapa orang gejala bisa terlihat lebih lama lagi.
WHO malah mengatakan masa inkubasi penyakit bisa berlangsung 14 hari.
Spesialis THT di Inggris juga memperhatikan ada peningkatan gejala anosmia – istilah untuk kehilangan indera penciuman.
Sejumlah orang di media sosial melaporkan kehilangan indera penciuman dan perasa. Beberapa di antara yang melaporkan ini telah dites positif terinfeksi virus corona.
Namun, bukti menunjukkan ini hanya terjadi sesekali. Lagipula flu biasa juga menyebabkan kehilangan indera penciuman dan perasa.
Saat paling menular adalah ketika orang terinfeksi memperlihatkan gejala.
Namun ada pandangan bahwa penyebaran juga terjadi bahkan sebelum tampak gejala sakit.
Gejala awal sangat mudah tertukar dengan gejala pilek dan flu biasa.
Seberapa mematikan?
Proporsi jumlah yang meninggal dari penyakit cukup rendah (antara 1% and 2%) – tetapi penghitungan ini tak terlalu bisa diandalkan.
Ribuan yang sedang dirawat dan belum tahu bagaimana nasib mereka. Maka angka kematian bisa lebih tinggi.
Namun juga bisa lebih rendah karena gejala ringan tidak dilaporkan.
Penelitian WHO terhadap 56.000 pasien menghasilkan beberapa temuan:
  • 6% sakit kritis – gagal paru-paru, infeksi parah dan gagal organ serta risiko kematianseptic shock, organ failure and risk of death
  • 14% gejala parah – kesulitan bernapas dan tersengal-sengal
  • 80% gejala ringan – demam dan batuk serta pneumonia
Orang tua dan mereka yang punya penyakit bawaan (seperti asma, diabetes, tekanan darah tinggi) lebih mudah memburuk kondisinya.
Data dari China memperlihatkan laki-laki sedikit lebih berisiko mati akibat virus ini daripada perempuan.
Perawatan mengandalkan agar tubuh pasien tetap bekerja, termasuk memberi bantuan pernapasan, sampai system kekebalan tubuh mereka bisa melawan virus.
Pengembangan vaksin sedang dilakukan.

Minggu, 19 Januari 2020

Gangguan mental

Gangguan mental

Gangguan mental atau gangguan jiwa adalah penyakit yang memengaruhi emosi, pola pikir, dan perilaku penderitanya. Sama halnya dengan penyakit fisik, penyakit mental juga ada obatnya.
 Di Indonesia penderita gangguan mental diidentikkan dengan sebutan ‘orang gila’ atau ‘sakit jiwa’, dan sering mengalami perlakuan yang tidak menyenangkan, bahkan hingga dipasung. Padahal, penderita gangguan mental bisa dibawa ke rumah sakit untuk diberikan pengobatan.     
Gangguan mental bisa diobati dengan psikoterapi dan obat-obatan. Pada kasus tertentu, dokter akan memberikan kombinasi kedua metode pengobatan tersebut serta menyarankan pasien menjalani gaya hidup yang sehat. 

Gangguan Mental Gejala dan tanda gangguan mental tergantung pada jenis gangguan yang dialami. Penderita bisa mengalami gangguan pada emosi, pola pikir, dan perilaku.

Beberapa contoh gejala gangguan mental adalah:
1. Waham atau delusi, yaitu meyakini sesuatu yang tidak nyata atau tidak sesuai dengan fakta yang sebenarnya.
2. Halusinasi, yaitu sensasi ketika seseorang melihat, mendengar, atau merasakan sesuatu yang sebenarnya tidak nyata. Suasana hati yang berubah-ubah dalam periode-periode tertentu.
3. Perasaan sedih yang berlangsung hingga berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Perasaan cemas dan takut yang berlebihan dan terus menerus, sampai mengganggu aktivitas sehari-hari.
4. Gangguan makan misalnya merasa takut berat badan bertambah, cenderung memuntahkan makanan, atau makan dalam jumlah banyak.
5. Perubahan pada pola tidur, seperti mudah mengantuk dan tertidur, sulit tidur, serta gangguan pernapasan dan kaki gelisah saat tidur.
6. Kecanduan nikotin dan alkohol, serta penyalahgunaan NAPZA.
7. Marah berlebihan sampai mengamuk dan melakukan tindak kekerasan.
8. Perilaku yang tidak wajar, seperti teriak-teriak tidak jelas, berbicara dan tertawa sendiri, serta keluar rumah dalam kondisi telanjang.

Selain gejala yang terkait dengan psikologis, penderita gangguan mental juga dapat mengalami gejala pada fisik, misalnya sakit kepala, sakit punggung, dan sakit maag.

Penyebab Gangguan Mental Belum diketahui secara pasti apa penyebab gangguan mental. Namun, kondisi ini diketahui terkait dengan faktor biologis dan psikologis, sebagaimana akan diuraikan di bawah ini:

Faktor iologis (atau disebut gangguan mental organik)
• Gangguan pada fungsi sel saraf di otak. 
• Infeksi misalnya akibat bakteri streptococcus
• kelainan bawaan atau cedera pada otak. • Kerusakan otak akibat terbentur atau kecelakaan.
• Kekurangan oksigen pada otak bayi saat proses persalinan.
• Memiliki orang tua atau keluarga penderita gangguan mental. • Penyalahgunaan NAPZA dalam jangka panjang. Kekurangan nutrisi.

Faktor psikologis
• Peristiwa traumatik, seperti kekerasan dan pelecehan seksual.
• kehilangan orang tua atau disia-siakan di masa kecil.
• Kurang mampu bergaul dengan orang lain.
• Perceraian atau ditinggal mati oleh pasangan.
• Perasaanr diri, tidak mampu, marah, atau kesepian.

Diagnosis Gangguan Mental
Untuk menentukan jenis gangguan mental yang diderita pasien, psikiater akan melakukan pemeriksaan medis kejiwaan dengan mewawancarai pasien atau keluarganya. Pertanyaan yang akan diajukan meliputi:
• Gejala yang dialami, termasuk sejak kapan gejala muncul dan dampaknya pada aktivitas sehari-hari.
• Riwayat penyakit mental pada pasien dan keluarganya.
• Peristiwa yang dialami pasien di masa lalu yang memicu trauma. O
• obat-obatan dan suplemen yang pernah atau sedang dikonsumsi.

Guna menyingkirkan kemungkinan adanya penyakit lain, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Salah satu pemeriksaan penunjang yang dilakukan adalah tes darah. Melalui tes darah, dokter dapat mengetahui apakah gejala pada pasien disebabkan oleh gangguan tiroid, kecanduan alkohol, atau penyalahgunaan NAPZA.

Contoh Gangguan Mental 
Setelah melakukan sejumlah pemeriksaan, dokter dapat menentukan jenis gangguan mental yang dialami pasien. Dari sekian banyak jenis gangguan mental, beberapa yang paling sering terjadi adalah:

 1. Depresi
Depresi merupakan gangguan suasana hati yang menyebabkan penderitanya terus-menerus merasa sedih. Berbeda dengan kesedihan biasa yang berlangsung selama beberapa hari, perasaan sedih pada depresi bisa berlangsung hingga berminggu-minggu atau berbulan-bulan.

 2. Skizofrenia
 Skizofrenia adalah gangguan mental yang menimbulkan keluhan halusinasi, delusi, serta kekacauan berpikir dan berperilaku. Skizofrenia membuat penderitanya tidak bisa membedakan antara kenyataan dengan pikirannya sendiri.

 3. Gangguan kecemasan
Gangguan kecemasan merupakan gangguan mental yang membuat penderitanya merasa cemas dan takut secara berlebihan dan terus menerus dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Penderita gangguan kecemasan dapat mengalami serangan panik yang berlangsung lama dan sulit dikendalikan.

 4. Gangguan bipolar
Gangguan bipolar adalah jenis gangguan mental yang ditandai dengan perubahan suasana hati. Penderita gangguan bipolar dapat merasa sangat sedih dan putus asa dalam periode tertentu, kemudian menjadi sangat senang dalam periode yang lain.

 5. Gangguan tidur
Gangguan tidur merupakan perubahan pada pola tidur yang sampai mengganggu kesehatan dan kualitas hidup penderitanya. Beberapa contoh gangguan tidur adalah sulit tidur (insomnia) dan sangat mudah tertidur (narkolepsi).

Pengobatan Gangguan Mental 
Pengobatan gangguan mental tergantung pada jenis gangguan yang dialami dan tingkat keparahannya. Selain terapi perilaku kognitif dan pemberian obat, dokter juga akan menyarankan pasien menjalani gaya hidup yang sehat.

Terapi perilaku kognitif
Terapi perilaku kognitif adalah jenis psikoterapi yang bertujuan mengubah pola pikir dan respons pasien, dari negatif menjadi positif. Terapi ini menjadi pilihan utama untuk mengatasi gangguan mental, seperti depresi, skizofrenia, gangguan kecemasan, gangguan bipolar, dan gangguan tidur. Pada banyak kasus, dokter akan mengombinasikan terapi perilaku kognitif dan obat-obatan, agar pengobatan menjadi lebih efektif.

Obat-obatan
Untuk meredakan gejala yang dialami penderita dan meningkatkan efektifitas psikoterapi, dokter dapat meresepkan sejumlah obat berikut:
• Antidepresan, misalnya fluoxetine
• Antipsikotik, seperti aripiprazole.
• Pereda cemas, misalnya alprazolam.
• mood stabilizer seperti lithium.

Perubahan gaya hidup
Menjalani gaya hidup sehat dapat memperbaiki kualitas tidur penderita gangguan mental yang juga mengalami gangguan tidur, terutama bila dikombinasikan dengan metode pengobatan di atas. Beberapa langkah yang bisa dilakukan adalah:
• Mengurangi asupan gula dalam makanan. • Memperbanyak makan buah dan sayur.    • Membatasi konsumsi minuman berkafein. • Berhenti merokok dan mengonsumsi minuman beralkohol.
•  Mengelolastres dengan baik. Melakukan olahraga secara rutin.
•  Makancemilan dengan sedikit karbohidrat sebelum tidur.
• Tidur dan bangun di jam yang sama setiap hari.

Jika mengalami gangguan mental yang cukup parah, penderita perlu menjalani perawatan di rumah sakit jiwa. Demikian juga jika penderita tidak bisa menjalani perawatan mandiri atau sampai melakukan tindakan yang membahayakan diri sendiri dan orang lain.

Komplikasi Gangguan Mental Gangguan mental dapat menyebabkan komplikasi serius, baik pada fisik, emosi, maupun perilaku. Bahkan, satu gangguan mental yang tidak diatasi bisa memicu gangguan mental lainnya. Beberapa komplikasi yang bisa muncul adalah:
• Perasaan tidak bahagia dalam hidup.     
• Konflik dengan anggota keluarga. Kesulitan menjalin hubungan dengan orang lain.
•  Terasingdari kehidupan sosial.
• Kecanduan rokok, alkohol, atau NAPZA.
• Keinginan untuk bunuh diri dan mencelakai orang lain.
• Terjerat masalah hukum dan keuangan.
• Rentan sakit akibat sistem kekebalan tubuh menurun.

Pencegahan Gangguan Mental 
Tidak semua gangguan mental dapat dicegah. Namun, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko serangan gangguan mental, yaitu:
• tetap berpartisipasi aktif dalam pergaulan dan aktivitas yang disenangi.
•  Berbagilahdengan teman dan keluarga saat menghadapi masalah.
• lakukanlah olahraga rutin, makan teratur, dan kelola stres dengan baik.
• Tidur dan bangun tidur teratur pada waktu yang sama setiap harinya.
• jangan merokok dan menggunakan NAPZA.
• Batasi konsumsi minuman beralkohol dan minuman berkafein.
• Konsumsi obat-obatan yang diresepkan dokter, sesuai dosis dan aturan pakai.
• Segera ke dokter bila muncul gejala gangguan mental.